News

Harga Kebutuhan Pokok di Bandung Jelang Ramadan 1447 H Tetap Stabil, Pemkot Siapkan Bazar Murah

Azis - Tuesday, 03 February 2026 | 05:38 AM

Background
Harga Kebutuhan Pokok di Bandung Jelang Ramadan 1447 H Tetap Stabil, Pemkot Siapkan Bazar Murah
Foto dok: / Jabarprov.

INFOKBB.ID - Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Bandung memastikan kondisi harga kebutuhan pokok masyarakat masih berada dalam situasi yang relatif aman dan terkendali. Meski cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi sempat memengaruhi aktivitas distribusi di sejumlah wilayah Jawa Barat, stabilitas harga di pasar tradisional Kota Bandung dinilai masih terjaga.

Pemantauan intensif terus dilakukan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi gejolak harga menjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan. Dari hasil pemantauan tersebut, belum ditemukan lonjakan harga yang signifikan atau di luar batas kewajaran.

Seperti dilansir dari halaman resmi Jabarprov, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus hadir untuk memastikan daya beli masyarakat tidak terganggu. Menurutnya, fluktuasi harga yang terjadi sejauh ini masih dapat dikendalikan dan belum menimbulkan keresahan di kalangan warga.

“Secara umum, harga kebutuhan pokok masih dalam kondisi stabil. Memang ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, terutama produk hortikultura seperti cabai yang terdampak cuaca, tetapi kenaikannya masih wajar dan tidak ekstrem,” ujar Farhan, Minggu (1/2/2026).

Berdasarkan laporan terbaru dari Disdagin Kota Bandung, harga cabai rawit merah saat ini berada di kisaran Rp58.000 per kilogram. Angka tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp9.000 dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, harga ini dinilai jauh lebih rendah dibandingkan lonjakan pada periode sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram.



Farhan menyebutkan, kondisi harga saat ini justru menunjukkan tren yang lebih stabil jika dibandingkan dengan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang pernah dilakukan bersama Disdagin dan Bulog beberapa waktu lalu.

“Kalau kita bandingkan dengan kondisi sebelumnya, sekarang justru lebih terkendali dan tidak ada tekanan besar pada harga,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk komoditas protein hewani, pemerintah memastikan harga masih berada pada level normal. Data Disdagin per akhir Januari 2026 mencatat harga daging sapi berkisar Rp140.000 per kilogram, daging ayam ras sekitar Rp38.000 per kilogram, serta telur ayam berada di angka Rp29.000 per kilogram.

“Untuk sektor protein hewani, tidak ada gejolak berarti. Harga relatif stabil dan pasokan juga mencukupi,” jelas Farhan.

Menanggapi bencana longsor yang sempat terjadi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Farhan memastikan peristiwa tersebut tidak berdampak terhadap distribusi bahan pangan ke Kota Bandung. Jalur distribusi dari produsen dan distributor ke pasar tradisional tetap berjalan normal sehingga tidak mengganggu ketersediaan barang.



“Distribusi aman dan pasokan ke Kota Bandung tidak terganggu. Masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan bahan pangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Farhan menegaskan komitmen Pemkot Bandung untuk menjaga stabilitas harga pangan tidak hanya menjelang Ramadan, tetapi juga hingga perayaan Idulfitri. Ia menilai kestabilan harga menjadi faktor penting agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa dibebani lonjakan biaya kebutuhan sehari-hari.

“Kami tidak ingin masyarakat Bandung memasuki Ramadan dengan rasa cemas terhadap harga pangan. Pemerintah akan terus memastikan pasokan aman, harga terkendali, dan daya beli warga tetap terjaga,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret pengendalian harga, Pemkot Bandung melalui Disdagin kembali menyiapkan program Bazar Murah Utama (Bazmut) yang akan digelar di 30 kecamatan. Program ini dirancang untuk memberikan akses kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sekaligus menekan potensi inflasi menjelang Ramadan hingga Lebaran.

“Bazar murah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi instrumen nyata dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Harapannya, warga bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih ringan,” pungkas Farhan. (*)