News

Longsor Cisarua, Pemkab Bandung Barat Tutup Sementara Curug Bugbrug hingga Situ Reret

Azis - Tuesday, 27 January 2026 | 05:41 AM

Background
Longsor Cisarua, Pemkab Bandung Barat Tutup Sementara Curug Bugbrug hingga Situ Reret
Curug Bugbrug yang terletak di Bandung Barat adalah salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan keindahan air terjun yang menawan. (Sumber : Instagram/@bimobiiim/@curugbugbrug).

INFOKBB.ID - Keselamatan menjadi fondasi utama dalam pengelolaan pariwisata, terutama di tengah meningkatnya ancaman bencana alam. Hal inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengambil langkah cepat dengan menutup sementara sejumlah destinasi wisata alam di wilayah Kecamatan Cisarua.

Kebijakan tersebut dijalankan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB sebagai respons atas peristiwa tanah longsor yang terjadi di kawasan tersebut. Penutupan sementara dilakukan sebagai bentuk antisipasi untuk melindungi wisatawan, pengelola, serta masyarakat sekitar dari potensi risiko lanjutan.

Seperti dikutip infokbb.id dari halaman resmi Pemkab Bandung Barat, Kepala Bidang Pariwisata Disparbud KBB, David Oot, menuturkan bahwa keputusan ini mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan destinasi wisata alam, khususnya lokasi yang berada di jalur aliran sungai dan kawasan perbukitan yang rawan pergerakan tanah.

Sejumlah destinasi yang terdampak dan dihentikan operasionalnya antara lain Curug Bugbrug, Curug Tilu, Curug Pelangi, Curug Layung, dan Situ Reret. Penutupan diberlakukan untuk waktu yang belum ditentukan, sambil menunggu hasil evaluasi lapangan serta pernyataan resmi bahwa kondisi telah aman untuk dikunjungi kembali.

David menjelaskan, beberapa curug seperti Bugbrug, Tilu, dan Pelangi berada pada satu sistem aliran sungai yang sama. Kondisi tersebut membuat tingkat kerawanan di kawasan itu relatif serupa, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan cuaca ekstrem. Atas dasar itu, pemerintah daerah bersama pengelola sepakat menghentikan seluruh aktivitas wisata sementara waktu.



Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari penerapan manajemen krisis kepariwisataan yang wajib dijalankan dalam situasi darurat bencana. Ia menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan business of trust, di mana kepercayaan publik hanya dapat terjaga jika aspek keselamatan benar-benar diutamakan.

“Pengunjung datang bukan sekadar untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga berharap adanya jaminan rasa aman. Karena itu, keselamatan tidak bisa ditawar dalam pengelolaan destinasi wisata,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Lebih jauh, David menyinggung tantangan global berupa fenomena poly-crisis, seperti perubahan iklim ekstrem dan ketidakpastian lingkungan yang semakin sering terjadi. Kondisi tersebut memberikan tekanan besar pada sektor pariwisata, namun juga membuka peluang untuk melakukan pembenahan agar lebih tangguh.

Sejalan dengan itu, Disparbud KBB terus mendorong transformasi arah pembangunan pariwisata, dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju pariwisata berkualitas yang berkelanjutan dan berorientasi pada keselamatan.

“Tidak mungkin berbicara pariwisata berkelanjutan tanpa adanya perlindungan dan keamanan bagi semua pihak. Ketahanan destinasi harus menjadi prioritas,” tegasnya.



Ia pun mengakui, ke depan penguatan mitigasi risiko dan kesiapsiagaan bencana menjadi kebutuhan mendesak dalam pengelolaan destinasi wisata. Dengan langkah tersebut, pembangunan pariwisata di Kabupaten Bandung Barat diharapkan dapat berlangsung secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. (*)