Ekonomi

CTO Mediakaya Ungkap Strategi 'Pasif Income' Media: Target 10.000 Konten Evergreen dan Transparansi Data

Admin KBB - Sunday, 16 November 2025 | 12:21 PM

Background
CTO Mediakaya Ungkap Strategi 'Pasif Income' Media: Target 10.000 Konten Evergreen dan Transparansi Data

INFOKBB – Model bisnis media siber terus berevolusi, menuntut adaptasi cepat terhadap perubahan algoritma search engine. CTO Mediakaya Idham Arifin memaparkan strategi baru untuk monetisasi media yang berfokus pada volume konten, transparansi data, dan penciptaan ekosistem kolaboratif.

Menurutnya, era di mana media hanya memproduksi sedikit konten per hari telah berakhir. Menggunakan contoh Pikiran Rakyat, ia menyebutkan bahwa target 200 konten per bulan "tidak cukup" lagi setelah algoritma berubah drastis.

"Kami melakukan inisiatif, bagaimana kalau setiap jam satu konten? 24 konten per hari. Lalu kita lebihin 48 konten per hari. Akhirnya kami ambil jalan tengah di 40 konten per hari," ujar Idham dalam acara Forum Radio Summit 2025 di Jakarta, Sabtu, 15 November 2025.

Volume produksi konten yang masif ini, didukung oleh studi kasus dari Radio Suara Surabaya yang mampu memproduksi lebih dari 40 konten harian dengan bantuan tenaga magang, bukanlah tanpa tujuan.



Target utamanya adalah mencapai 10.000 konten evergreen (konten yang selalu relevan) di setiap website.

"Karena apa? Karena setelah 10.000 konten evergreen, istilah motivator mah, nanti tiba-tiba punya passive income," ujarnya. "10.000 artikel evergreen kan akan menghasilkan trafik dan akan menghasilkan impresi dari iklan-iklan yang akan tayang."

Kunci Transparansi dan Transformasi Radio

Dalam pemaparannya, Idham menekankan perbedaan model bisnis Mediakaya dibandingkan dengan ad tech (teknologi iklan) lain, terutama dari luar negeri. Kunci utamanya adalah transparansi.

"Yang beda dari Media Kaya adalah transparansi. Akses ke dashboard kita kasih sepenuhnya. Jadi enggak ada namanya laporan yang kita buat-buat," ujarnya.





Ia mengkritik ad tech asing yang sering menyediakan dashboard custom di mana metrik seperti nilai rupiah, impresi, dan RPM (revenue per mille) bisa jadi sudah diubah.

Lebih lanjut, Idham menyoroti peluang besar bagi media konvensional seperti radio untuk bertransformasi ke digital. Ia memberikan contoh bagaimana keterbatasan slot siaran audio di radio membuat informasi tidak lengkap.

"Misalkan penyiar baru aja mau ngomong ngejelek-jelekin gubernur, habis waktunya. Atau (info) kemacetan di Sudirman. Sudirman yang sebelah mana? Karena apa?" paparnya.

"Tapi dengan teks, dengan foto yang relevan, informasi bisa lebih cakep, bisa lebih lengkap. Semakin user stay di situ, monetisasinya pun jadi semakin banyak opsinya."

Monetisasi Berbasis Data



Mediakaya, lanjutnya, tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga melakukan evaluasi berbasis data untuk memaksimalkan pendapatan. Mitra akan diberi rekomendasi spesifik mengenai topik, format, dan waktu tayang.

"Kita akan bilang, 'Artikel di Pekalongan bagusnya tentang batik nih. Prime time-nya hari Kamis jam 5 sore. Bisa enggak bikin 10 artikel tentang itu?'" katanya.

Model monetisasi programatik dibagi dua: RPM (pendapatan per 1.000 tayang) dan iklan dengan Cost Per Click (CPC) tinggi. Relevansi menjadi kunci. "Kalau teman-teman di Surabaya si jago lalu lintas, artikelnya relevan dengan mobil, akhirnya semua brand mobil (pasang iklan). Iklan yang muncul ya relevan," tambahnya.

Idham memproyeksikan sebuah ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan, di mana kesuksesan satu mitra media dapat direplikasi ke mitra lain, menciptakan model sharing revenue yang lebih luas.***