Saat Tulisan Jurnalis Memaksa Gubernur Angkat Bicara
Admin KBB - Wednesday, 18 February 2026 | 07:47 AM


INFOKBB - Di era 80-90an, musisi Iwan Fals mengguncang panggung dengan lirik-lirik yang memotret "orang sisa-sisa" dan kritik pedas terhadap sistem penguasa Orde Baru. Puluhan tahun kemudian, di era disrupsi digital, semangat kritis itu seolah menemukan wadah baru dalam tulisan-tulisan Julkifli Sinuhaji, seorang jurnalis Pikiran Rakyat yang kini sedang memasuki masa keemasannya.
Kembalinya Sang "Watchdog" ke Lapangan
Banyak yang terkejut mengetahui bahwa Julkifli baru kembali ke lapangan sekitar 4 bulan terakhir hingga Februari 2026. Sebelumnya, selama hampir tiga tahun, ia berkutat di dunia Brand Partnership, sisi bisnis media yang sering kali dianggap jauh dari "debu jalanan". Namun, jeda itu justru menjadi laboratorium intelektual baginya.
Di usia 32 tahun, Julkifli kembali ke meja redaksi bukan sebagai pemula, melainkan sebagai jurnalis dengan insting hibrida. Ia memahami angka-angka ekonomi secara presisi, namun tetap memiliki hati seorang aktivis yang peka terhadap ketimpangan sosial.
Menantang Narasi Penguasa
Gaya penulisan Julkifli belakangan ini dikenal dengan teknik "Contradiction Framing", ini keberanian intelektual untuk membenturkan kebijakan daerah dengan realitas nasional dan kebutuhan rakyat kecil.
Membenturkan Kebijakan Daerah vs Pusat:
Melalui tulisannya yang menyitir pendapat Ekonom Unpad, Julkifli secara berani "menegur" Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ia menunjukkan bahwa Surat Edaran (SE) Gubernur terkait penghentian izin perumahan berpotensi menghambat Program 3 Juta Rumah Prabowo. Ini bukan sekadar berita, ini adalah analisis makro yang mengingatkan bahwa ego birokrasi jangan sampai mengorbankan mimpi rakyat untuk memiliki hunian.
Memicu Reaksi Sang Gubernur:
Namanya semakin melambung saat ia mengangkat kritik Yayasan Lembaga Komsumen Indonesia (YLKI) terhadap ide Dedi Mulyadi yang ingin "meliburkan" angkot di Bandung. Tulisan ini begitu "menggigit" hingga memaksa sang Gubernur memberikan klarifikasi langsung melalui video IG Reels di Instagram. Julkifli membuktikan bahwa jurnalisme berkualitas masih mampu memaksa penguasa untuk turun ke ruang publik dan memberikan penjelasan.
Jurnalisme yang "Tenang tapi Tajam"
Jika Iwan Fals punya lagu "Air Mata Api" sebagai manifesto emosional kaum marginal, Julkifli memiliki artikel-artikelnya sebagai manifesto data bagi masyarakat Jawa Barat. Ia tidak perlu meledak-ledak; ia cukup menyajikan fakta yang akurat dan narasumber yang otoritatif (seperti YLKI atau akademisi UNPAD) untuk membuat sebuah kebijakan diuji di "meja sidang" pendapat publik.
Komentar netizen yang ramai di media sosial adalah bukti bahwa tulisannya hidup. Ia berhasil mengubah isu birokrasi yang membosankan menjadi diskursus demokrasi yang panas dan relevan.
Dalam waktu singkat, ia telah bertransformasi menjadi "Jurnalis Intelektual" yang fungsional, sosok yang menjembatani bahasa pakar, kepentingan politik, dan jeritan rakyat bawah.***
Next News

Soroti Kawasan Citatah, Warga Ungkap Perbedaan Pemandangan Sawah dan Area Tambang
14 days ago

Angka Stunting di Batujajar KBB Masih Tinggi, Camat Ingatkan Tak Beri Susu Kental Manis ke Anak
14 days ago

Berikut Formasi PPPK Kemensos 2026, Ribuan Tenaga Guru Dibutuhkan untuk Sekolah Rakyat
2 months ago

Upper Secondary Lembang Darul Hikam Jadi Sekolah Unggul Garuda Transformasi 2026, Bantu Perkuat Kualitas Pendidikan
2 months ago

Bupati Jeje Sudah Lapor KDM, Pocong di Lembang Masih Berkeliaran
2 months ago

Jadwal SIM Keliling Bandung Barat dan Cimahi Mei 2026, Cek Lokasi dan Syarat Perpanjangannya
2 months ago

Warga Serbu Gerakan Pangan Murah di Sindangkerta Bandung Barat
2 months ago

Pesta Rakyat Warnai Syukuran Juara Persib di Kediaman Umuh Muchtar
2 months ago

Persib Menang Dramatis di Parepare, Asa Juara Kian Terbuka
3 months ago

Soroti Integritas ASN, PMII Bandung Barat Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Pelanggaran Etik BKPSDM
3 months ago