News

Isu Air Tercemar Dibantah BGN, Ini Fakta di Balik Kasus Keracunan MBG Bandung Barat

Azis - Tuesday, 11 November 2025 | 07:28 AM

Background
Isu Air Tercemar Dibantah BGN, Ini Fakta di Balik Kasus Keracunan MBG Bandung Barat

INFOKBB.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sumber air yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dinyatakan aman dan memenuhi standar kesehatan.



‎Seperti dikutip infokbb.id dari Antara, Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, mengungkapkan temuan itu di Jakarta pada Selasa (11/11).

‎“Dari hasil pemeriksaan di lapangan dan uji laboratorium, air yang digunakan oleh enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bandung Barat seluruhnya layak digunakan,” jelas Arie.

Enam titik SPPG yang diuji tersebut meliputi SPPG Cipongkor Cijambu, Cipongkor Neglasari, Cisarua Jambudipa, Cisarua Pasirlangu, Lembang Kayu Ambon, dan Lembang Cibodas 2. Berdasarkan analisis fisik, kimia, hingga mikrobiologi, seluruh sampel air dinyatakan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Kabupaten Bandung Barat.

Uji tersebut dilakukan sejak 23 Oktober 2025. “Dengan hasil itu, isu mengenai kualitas air bersih di enam SPPG tersebut sudah terjawab dan tidak perlu diperdebatkan lagi,” kata Arie.



Meski demikian, BGN menemukan satu lokasi yang tidak memenuhi kriteria kualitas air, yaitu di SPPG Cihampelas. Hasil laboratorium menunjukkan adanya kandungan mangan, zat besi, serta bakteri Coliform melebihi ambang batas.

Untuk mencegah kontaminasi berulang, BGN mewajibkan seluruh pengelola SPPG menggunakan air galon bersertifikat dalam proses memasak hidangan MBG. “Kami instruksikan agar setiap penyajian makanan dilakukan dengan air kemasan yang terjamin mutunya,” tambah Arie.

Kasus keracunan MBG pertama kali terjadi pada 26 September 2025, melibatkan tiga SPPG di wilayah Cipongkor dan Cihampelas. Ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu yang disediakan. Hasil investigasi yang diserahkan pada 17 Oktober 2025 mengungkap penyebab utama berasal dari kadar nitrit tinggi pada bahan makanan seperti melon dan lotek.

Beberapa minggu kemudian, insiden serupa kembali muncul di wilayah Cisarua, tepatnya di SPPG Jambudipa dan Pasirlangu, masing-masing pada 14 dan 15 Oktober 2025. Namun, investigasi kali ini tidak dapat dilanjutkan karena sampel makanan sudah tidak tersedia untuk diuji lebih lanjut.***