Rahasia Pengemudi Aman: Bukan Parkir Paralel, Tapi Ini!
Azis - Wednesday, 21 January 2026 | 12:00 PM


INFOKBB.ID - Mengemudi itu bukan cuma soal memindahkan massa dari titik A ke titik B, tapi juga tentang manajemen risiko, kesabaran, dan yang paling penting, kesadaran penuh. Yuk, kita bedah satu per satu, apa saja sih yang perlu kita kontrol biar perjalanan aman, nyaman, dan hati tentram.
1. Kontrol Emosi: Si Sumbu Pendek di Balik Kemudi
Ini nih biang kerok nomor wahid penyebab banyak insiden di jalan. Jalanan macet bikin mumet, tiba-tiba ada motor nyelonong dari kiri tanpa sein, atau mobil di depan ngerem mendadak padahal nggak ada apa-apa. Rasanya, darah langsung mendidih, kepala berasap, dan tangan gatal pengen ngeklakson panjang-panjang atau bahkan turun buat 'negur'. Hayo, ngaku siapa yang pernah begitu?
Ketika emosi menguasai, rasionalitas kita langsung hilang entah ke mana. Pandangan bisa jadi gelap, fokus buyar, dan keputusan yang diambil cenderung impulsif dan berbahaya. Niatnya pengen ngebales, eh malah jadi penyebab kecelakaan. Inget, bro, jalanan itu bukan tempat buat melampiaskan amarah. Tarik napas, buang pelan-pelan. Dengar musik yang menenangkan, atau anggap aja orang lain itu lagi buru-buru (meski kadang nyebelinnya kebangetan). Ingat, keluarga di rumah nunggu kamu pulang dengan selamat, bukan dengan cerita adu jotos atau masuk IGD.
2. Kontrol Kecepatan: Gas Pol Itu Bikin Ngeri, Bukan Keren
Kadang, godaan buat ngegas pol itu emang gede banget. Apalagi kalau jalanan lagi sepi, rasanya pengen ngelibas semua mobil di depan. Ada sensasi adrenalin yang bikin nagih, seolah kita pembalap F1 dadakan. Tapi, kita kan bukan di sirkuit, dan mobil kita juga bukan mobil balap yang dirancang buat kecepatan tinggi terus-menerus. Ngebut itu kayak main dadu, kita nggak pernah tahu kapan giliran kita apes.
Batas kecepatan itu ada bukan cuma buat pajangan. Itu adalah standar keselamatan yang dihitung matang. Semakin tinggi kecepatan, semakin panjang jarak pengereman yang dibutuhkan, dan semakin kecil waktu reaksi kita terhadap bahaya mendadak. Belum lagi, kalau sampai kehilangan kendali, efeknya bisa fatal. Jadi, mending nyantai aja, nikmati perjalanan. Nggak ada gunanya cepat sampai tujuan kalau ujung-ujungnya malah ke rumah sakit atau, amit-amit, malah nggak sampai sama sekali. Ingat, slow but sure!
3. Kontrol Fokus dan Perhatian: HP Itu Racun Nomor Satu
Di era digital sekarang, perhatian kita seringkali terpecah belah. Sedang nyetir, tiba-tiba ada notifikasi WhatsApp masuk, "ting!". Jari langsung gatal pengen ngecek. Atau lagi asyik dengerin musik, eh, malah ikut nyanyi dan joget sampai lupa di jalan raya. Jangan salah, satu detik meleng saja, bisa jadi beda cerita. Motor di depan ngerem mendadak, pejalan kaki nyebrang tanpa lihat-lihat, atau rambu penting terlewatkan.
Handphone di tangan saat mengemudi itu bahaya banget, bahkan lebih berbahaya daripada mengemudi sambil mabuk, lho! Mata kita harus 100% tertuju ke jalan, tangan di kemudi, dan pikiran fokus pada situasi sekitar. Kalau memang ada yang penting banget, minggir dulu ke tempat aman. Nggak ada chat atau postingan medsos yang lebih penting dari keselamatan jiwa. Jadi, pakai mode 'Jangan Ganggu' atau simpan aja HP di saku atau tas biar nggak tergoda.
4. Kontrol Ego dan Kesombongan: Merasa Paling Benar Sendiri
Ini penyakit yang lumayan banyak menjangkiti pengemudi. Merasa paling jago, paling benar, atau paling punya hak di jalanan. Contohnya: nggak mau ngalah di persimpangan, nyerobot antrean, parkir seenaknya, atau nggak pernah pakai lampu sein. Kadang, ada juga yang sengaja mepet-mepetin mobil lain, atau ngebut buat 'ngasih pelajaran'. Duh, mental begitu bikin kita jadi pengemudi yang toksik banget.
Jalan raya itu milik bersama, bukan sirkuit pribadi. Setiap pengemudi punya hak dan kewajiban yang sama. Belajar empati dan toleransi itu penting banget. Bayangin kalau kita di posisi orang yang kita salip sembarangan, atau yang motornya kita pepet. Pasti sebel banget kan? Jadi, turunkan ego, belajar ngalah, dan hargai pengguna jalan lain. Solidaritas di jalan itu nggak kaleng-kaleng lho, bisa bikin perjalanan lebih lancar dan minim drama.
5. Kontrol Kondisi Fisik dan Mental: Jangan Ngeyel Kalau Udah Capek
Ini sering banget disepelekan. Mentang-mentang udah jago nyetir, sering begadang semalaman pun tetap maksa nyetir jauh. Atau lagi demam, pusing, tapi tetap ngotot harus nyetir sendiri. Padahal, kondisi fisik dan mental yang nggak prima itu sama bahayanya dengan nyetir sambil mabuk. Mata udah lima watt, pandangan kabur, refleks lambat, dan pengambilan keputusan jadi ngaco.
Kalau udah ngantuk berat, mending minggir dulu cari tempat aman buat istirahat sejenak, atau tidur sebentar. Kopi memang bisa bikin melek, tapi itu cuma solusi sementara. Kalau badan memang udah minta istirahat, jangan dipaksa. Sayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Nggak perlu gengsi bilang capek atau nggak sanggup nyetir. Lebih baik sedikit terlambat sampai tujuan daripada nggak sampai sama sekali karena insiden yang disebabkan oleh kelelahan.
6. Kontrol Perencanaan dan Antisipasi: Jadi Peramal Jalanan
Mengemudi itu mirip main catur, kita harus bisa memprediksi beberapa langkah ke depan. Artinya, kita harus selalu siap dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di jalan. Jangan cuma fokus pada mobil di depan atau lampu merah di persimpangan. Perhatikan spion, pergerakan motor di samping, anak-anak yang main di pinggir jalan, sampai potensi lubang di aspal.
Pengemudi yang baik itu punya pandangan luas dan selalu berpikir ke depan. Misalnya, melihat lampu rem mobil di depan menyala, langsung siap-siap ngerem juga. Atau melihat ada truk besar di depan, langsung antisipasi jarak aman. Dengan perencanaan dan antisipasi yang matang, kita bisa bereaksi lebih cepat dan menghindari situasi berbahaya sebelum itu terjadi. Ini akan sangat mengurangi stres dan bikin perjalanan lebih tenang.
Penutup: Nyetir Itu Bukan Cuma Skill, Tapi Juga Attitude
Jadi, teman-teman sekalian, mengemudi mobil itu jauh lebih kompleks daripada yang kita kira. Ini bukan cuma soal seberapa mahir kita mengendalikan setir atau pedal gas dan rem, tapi juga seberapa baik kita mengendalikan diri sendiri. Emosi, kecepatan, fokus, ego, kondisi fisik, dan kemampuan mengantisipasi, semuanya adalah elemen krusial yang harus selalu kita kontrol.
Menjadi pengemudi yang bertanggung jawab itu ibarat menjadi pahlawan tanpa tanda jasa di jalan raya. Kita nggak cuma menjaga keselamatan diri sendiri, tapi juga keselamatan orang lain. Mari kita jadikan setiap perjalanan sebagai ajang latihan kesabaran, kedisiplinan, dan empati. Pulang dengan selamat, itu adalah tujuan paling utama. Ingat ya, safety first! (*)
Next News

Nikmati Musim Hujan: Snack Terbaik Untuk Momen Santai.
6 days ago

Hujan Reda? Ini Cara Bikin Halamanmu Cantik & Bebas Penyakit.
6 days ago

Sifat Sombong? Ini Alasan Mengapa Sulit Sukses
8 days ago

Resep Sukses UMKM: Bisnis Sembako Anti Gulung Tikar
8 days ago

Atasi Bau Kaki! Tips Ampuh Musim Hujan Tanpa Minder
12 days ago

Terjebak Obrolan Cerdas? Strategi Hadapi Hiu Intelektual.
13 days ago

Bukan Cuek, Ini Tanda Dia Sayang Padamu!
14 days ago

5 Penginapan Terbaik di Lembang Bandung Barat, Nyaman dan Cocok untuk Liburan
a month ago

10 Rekomendasi Bakso Enak di Lembang, Hangat dan Pas Dinikmati di Udara Dingin
a month ago

5 Destinasi Wisata Favorit di Lembang untuk Libur Akhir Tahun 2025
2 months ago

