DPRD Jabar Pertanyakan Pembangunan Gerbang Gedung Sate yang Habiskan Rp3,9 M: Kebudayaan Apa yang Diangkat KDM?
Admin KBB - Sunday, 23 November 2025 | 05:51 AM


INFOKBB - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maulana Yusuf Erwinsyah, mempertanyakan arah kebijakan kebudayaan Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi (KDM). Ia menilai, kebijakan kebudayaan Pemprov Jabar lebih menonjolkan pembangunan fisik bernuansa estetika daripada upaya merawat warisan sejarah yang memiliki nilai kebudayaan autentik.
Menurut Maulana, proyek-proyek seperti Gapura Gerbang Gedung Sate bernilai Rp3,9 miliar, pembangunan gapura perbatasan provinsi, hingga rencana jangka panjang membangun gapura di gerbang tol khas Jawa Barat, menunjukkan dominasi belanja estetika dalam kebijakan kebudayaan daerah.
“Sebenarnya kebudayaan apa yang ingin diangkat oleh KDM? Ideologi kebudayaan apa yang bisa dibuktikan dengan dibangunnya gapura dan gerbang-gerbang yang seolah-olah merepresentasikan bangunan Sunda?” ujar Maulana dalam keterangannya kepada redaksi infokbb, Minggu, 23 November 2025.
Maulana menegaskan bahwa esensi pelestarian budaya bukan pada penciptaan bangunan baru yang sekadar bernuansa “Sunda”, tetapi pada merawat jejak sejarah yang sudah ada seperti situs cagar budaya.
“Menjaga kebudayaan yang berarti adalah menjaga bangunan dan cagar budaya yang menyimpan sejarah lama. Di situlah nilai kebudayaan Sunda berada,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Jawa Barat memiliki lebih dari 50 situs cagar budaya yang memerlukan perhatian dan perawatan, bukan sekadar proyek simbolik yang menelan anggaran besar.
Selain itu, pada 2025, Pemprov Jabar menganggarkan Rp5,9 miliar untuk sewa kesenian dalam kegiatan seremonial Abdi Nagri Nganjang ka Warga. Sementata di sisi lain, anggaran pelestarian dan pengelolaan situs budaya hanya Rp842 juta, itu pun hanya untuk satu situs cagar budaya.
“Hingga saat ini, ketimpangan anggaran sangat mencolok. Anggaran untuk membangun bangunan baru bernuansa (yang dianggap) Sunda jauh lebih besar dibandingkan anggaran menjaga situs sejarah yang jelas memiliki nilai budaya Sunda yang lebih lama,” tegasnya.
Kondisi itu diperburuk dengan menurunnya anggaran pelestarian pada 2026 yang hanya mencapai Rp125.670.000.
“Dengan angka sekecil itu, bagaimana mungkin warisan sejarah bisa dirawat? Ini menunjukkan pelestarian sejarah jelas bukan prioritas,” ujarnya.
Lebih jauh, Maulana juga mengingatkan bahwa Jawa Barat masih menghadapi berbagai persoalan sosial seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan kesejahteraan.
“Di tengah begitu banyak persoalan mendesak, belanja estetika yang tidak prioritas justru terus digenjot. Pemprov Jabar harus segera meninjau ulang arah kebijakan kebudayaan agar lebih berpihak pada pelestarian dan kebutuhan masyarakat,” tutupnya.***
Next News

Soroti Kawasan Citatah, Warga Ungkap Perbedaan Pemandangan Sawah dan Area Tambang
19 days ago

Angka Stunting di Batujajar KBB Masih Tinggi, Camat Ingatkan Tak Beri Susu Kental Manis ke Anak
19 days ago

Berikut Formasi PPPK Kemensos 2026, Ribuan Tenaga Guru Dibutuhkan untuk Sekolah Rakyat
2 months ago

Upper Secondary Lembang Darul Hikam Jadi Sekolah Unggul Garuda Transformasi 2026, Bantu Perkuat Kualitas Pendidikan
2 months ago

Bupati Jeje Sudah Lapor KDM, Pocong di Lembang Masih Berkeliaran
2 months ago

Jadwal SIM Keliling Bandung Barat dan Cimahi Mei 2026, Cek Lokasi dan Syarat Perpanjangannya
2 months ago

Warga Serbu Gerakan Pangan Murah di Sindangkerta Bandung Barat
2 months ago

Pesta Rakyat Warnai Syukuran Juara Persib di Kediaman Umuh Muchtar
2 months ago

Persib Menang Dramatis di Parepare, Asa Juara Kian Terbuka
3 months ago

Soroti Integritas ASN, PMII Bandung Barat Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Pelanggaran Etik BKPSDM
3 months ago