Entertainment

Film Para Perasuk Tembus Sundance 2026, Ritual Kerasukan Desa Latas Bikin Dunia Melirik

Azis - Sunday, 28 December 2025 | 10:39 AM

Background
Film Para Perasuk Tembus Sundance 2026, Ritual Kerasukan Desa Latas Bikin Dunia Melirik
Poster Fim Para Perasuk (sumber : @filmparaperasuk)

INFOKBB.ID - Film Para Perasuk menjadi salah satu judul yang paling dinanti menjelang penyelenggaraan Sundance Film Festival 2026. Film ini dijadwalkan melakoni pemutaran perdana dunia di festival film independen paling berpengaruh tersebut, sekaligus menandai capaian baru bagi perfilman Indonesia di panggung global.

Keterpilihan Para Perasuk ke Sundance bukan pencapaian biasa. Karya terbaru Wregas Bhanuteja ini masuk dalam daftar 10 film internasional yang akan bersaing di kategori World Cinema Dramatic Competition, sebuah program utama yang kerap melahirkan film-film berpengaruh serta sineas baru yang diperhitungkan secara internasional.

Masuknya film ini ke kompetisi bergengsi tersebut semakin menegaskan konsistensi Wregas sebagai sutradara Indonesia yang terus menjaga kualitas dan keberanian bercerita. Setelah sebelumnya karya-karyanya menuai apresiasi di berbagai festival dunia, Para Perasuk menjadi film panjang ketiganya yang mendapat pengakuan global dan memperluas representasi sinema Indonesia di mata dunia.

Dari sisi produksi, Para Perasuk tampil ambisius dengan mempertemukan deretan aktor papan atas lintas generasi dalam satu semesta cerita. Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, hingga Ganindra Bimo dipercaya menghidupkan karakter-karakter yang saling terhubung dalam dinamika sosial desa. Kolaborasi ini menghadirkan bobot emosional yang kuat serta menjanjikan permainan akting yang berlapis.

Sinopsis Film Para Perasuk

Cerita Para Perasuk berakar pada kehidupan sebuah desa fiktif bernama Desa Latas. Di wilayah ini, praktik kerasukan tidak dipandang semata sebagai ritual sakral atau fenomena mistis, melainkan telah menjadi bagian dari tradisi kolektif yang dirayakan secara terbuka dan penuh sukacita.



Setiap perayaan digelar layaknya pesta rakyat. Warga desa berkumpul, menari mengikuti irama musik dan lantunan mantra, lalu membiarkan tubuh mereka dimasuki roh dalam suasana kebersamaan yang intens. Kerasukan bukan lagi sesuatu yang ditakuti, melainkan menjadi ruang ekspresi dan pelepasan diri.

Dalam tradisi tersebut, dikenal peran khusus bernama “perasuk”, yakni individu yang dipercaya mampu menyalurkan roh ke tubuh para “pelamun” sebutan bagi warga yang menari hingga kehilangan kesadaran. Interaksi antara perasuk, pelamun, dan masyarakat sekitar membentuk struktur sosial unik yang menjadi inti konflik dalam cerita.

Ritual kerasukan ini tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga menjadi medium eksplorasi tema besar film. Wregas menggunakan tradisi tersebut untuk menggali relasi manusia dengan kepercayaan turun-temurun, identitas komunal, serta batas tipis antara kendali diri dan penyerahan pada kekuatan kolektif.

Untuk memperkuat pengalaman visual, seluruh adegan tari kerasukan dalam film ini dirancang secara khusus oleh koreografer Siko Setyanto. Gerakannya bersifat fiktif namun terinspirasi dari naluri dan dinamika hewan, menciptakan koreografi yang tampak liar, organik, tetapi tetap terkontrol secara artistik.

Sementara itu, atmosfer ritual diperkuat melalui musik berjudul “Alam Sambetan” yang digubah secara eksklusif oleh Yennu Ariendra. Komposisi musik ini menjadi denyut emosional cerita, membangun ketegangan sekaligus menghadirkan nuansa magis yang menyelimuti keseluruhan film.



Sebagai catatan, Sundance Film Festival 2026 akan berlangsung pada 22 Januari hingga 1 Februari di Amerika Serikat. Kehadiran Para Perasuk di ajang ini tidak hanya menjadi pencapaian personal bagi para pembuatnya, tetapi juga tonggak penting dalam perjalanan panjang film Indonesia untuk terus diperhitungkan di kancah sinema dunia. (*)